Semangat pendidikan menggema kuat dari halaman Madrasah Aliyah Manbaul Ulum Tlogorejo pagi ini. Dalam balutan khidmat dan nasionalisme, seluruh civitas akademika madrasah mengikuti upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan pendidikan serta komitmen dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Upacara ini dipimpin langsung oleh Bapak Imam Buchori, S.Pd., Kepala Madrasah, yang tampil sebagai pembina upacara. Dalam amanatnya, beliau menekankan bahwa pendidikan bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan medan juang peradaban, tempat di mana generasi muda ditempa untuk menjadi pelita negeri.
“Ki Hajar Dewantara pernah berkata, ‘Dengan ilmu kita menuju kemuliaan.’ Hari ini, kita tidak hanya memperingati, tetapi meneguhkan tekad bahwa madrasah adalah benteng moral dan kecerdasan bangsa,” tegas beliau di hadapan seluruh peserta upacara.
Apresiasi untuk Para Pejuang Muda Madrasah
Lebih dari sekadar seremoni, momen ini juga menjadi panggung apresiasi bagi siswa-siswi berprestasi yang telah mengharumkan nama madrasah di ajang PORSEMA XIII 2025 yang diselenggarakan oleh LP Ma’arif NU PCNU Demak. Tiga siswa terbaik menerima penghargaan atas perjuangan dan dedikasi mereka:
- Muhammad Singgih – Juara 1 Lomba Tenis Meja
- Wahyu Bagus Vio – Juara 2 Lomba Lari 5 Km
- Naila Rahmatus S. – Juara 3 Lomba Penulisan Biografi Kyai
Prestasi ini bukan sekadar kemenangan di atas podium, tetapi juga menjadi bukti bahwa semangat belajar, kedisiplinan, dan kekuatan doa mampu menembus batas keterbatasan. Madrasah mengapresiasi pencapaian ini sebagai motivasi bagi seluruh siswa untuk terus berprestasi dalam berbagai bidang.
Refleksi Hardiknas: Pendidikan di Tengah Gelombang Teknologi
Hari Pendidikan Nasional tahun ini juga menjadi momentum reflektif. Di era yang serba digital, pendidikan menghadapi tantangan besar: bagaimana berkawan sekaligus berlawan dengan teknologi?
Teknologi telah membuka akses informasi tanpa batas, menjadikan ilmu pengetahuan hanya sejarak sentuhan jari. Namun di balik kemudahan itu, hadir pula risiko distraksi, budaya instan, dan kecenderungan pasif dalam berpikir kritis.
Pendidikan hari ini harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu—sebagai jembatan menuju inovasi dan kreativitas. Namun, ia juga harus mampu menjadi filter yang kuat saat teknologi mulai menggerus nilai-nilai moral, etika, dan empati manusia.
Tantangan zaman ini tidak cukup dijawab dengan kecerdasan digital semata, tetapi membutuhkan kebijaksanaan digital. Inilah tanggung jawab bersama: guru, siswa, orang tua, dan masyarakat untuk bersama-sama membentuk generasi yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga tangguh secara karakter.
“Mari jadikan Hari Pendidikan Nasional bukan hanya sebagai peringatan tahunan, tetapi sebagai panggilan untuk memperkuat pendidikan yang adaptif, kritis, dan berakar pada nilai-nilai kemanusiaan. Karena masa depan bukan milik teknologi, tetapi milik mereka yang mampu mengendalikannya demi kebaikan,” tutup Bapak Imam Buchori.
